Pendahuluan

Tikus sebagai hewan rodentia merupakan mahluk yang paling sukses dalam beradaptasi di berbagai lingkungan, baik lingkungan yang nyaman maupun di lingkungan paling ekstrim sekalipun, seperti di daerah kering, kotor dan tandus. Di daerah pemukiman tikus hidup dan bersarang di perumahan, di gudang-gudang tempat penyimpanan bahan pangan, di gedung-gedung perkantoran, di daerah perdagangan, hotel-hotel serta tempat rekreasi , dan dalam industri pangan maupun industri manufaktur.

Di tempat-tempat tertentu keberadaan hewan itu sudah tidak dapat ditolelir lagi karena kerugian yang disebabkan oleh hewan ini sangat berarti. Penyusutan bahan karena dimakan oleh hewan ini serta terjadinya kehilangan dan kerusakan telah dilaporkan dapat mencapai lebih dari lima persen. Kerusakan akan lebih parah lagi karena selain memakan bahan makanan tersebut, secara bersamaan tikus dapat menimbulkan kontaminasi dan mengotorinya dengan kotoran, urine, dan bahkan bangkai dari tikus tersebut yang mati di tempat tertentu akan menimbulkan bau yang tidak sedap. Hal tersebut sangat berarti seperti di daerah perdagangan/ supermarket, hotel-hotel berbintang, daerah industri pangan, dan bahkan di daerah pemukiman yang sangat mementingkan kenyamanan dan kebersihan. Hal yang menarik lagi adalah pada daerah perkantoran yang berbentuk gedung bertingkat maupun pada beberapa pabrik, tikus ini telah merusak alat maupun kabel-kabel listrik sehingga menimbulkan bahaya rawan terjadinya kebakaran akibat hubungan arus pendek dari arus listrik yang ada.

Menurut Priyambodo, 2006 setidaknya di Indonesia terdapat 161 spesies tikus, di dunia urban pest terdiri dari 3 jenis saja, yaitu

a. Tikus got (Rattus Norvegius)

b. Tikus rumah / atap (Rattus rattus)

c. Mencit Rumah (Mus musculus)

Mencit Rumah (Mus musculus)

Taksonomi

Order: Rodentia

Sub-Order: Myomorpha

Keluarga: Tikus

Sub-Famili: Murinae

Genus: Mus

Spesies: Mus musculus.

Dibawah ini adalah tabel morfologi tikus pada urban pests, yaitu :

Ciri-ciri jenis tikus rumah mencit rumah

  • Tekstur rambut Kasa dan panjang Kasar dan agak panjang Agak kasar Lembut dan halus
  • Bentuk hidung Kerucut terporong Kerucut terpotong Kerucut Kerucut
  • Bentuk badan Silindris agak Silindris agak Membesar kebelakang Silindris Silindris
  • Warna badan dorsal Membesar kebelakang Coklat hitam kelabu Coklat hitam kelabu Coklat hitam kelabu
  • Warna badan ventral Hitam Coklat kelabu (pucat) Coklat hitam kelabu Coklat hitam kelabu
  • Warna ekor dorsal Hitam Gelap Coklat gelap Coklat gelap
  • Warna ekor ventral Hitam Gelap agak pucat Coklat gelap Coklat gelap
  • Bobot tubuh 200 – 800 g 150 – 600 g 60 – 300 g 8 – 30 g
  • Panjang kepala dan badan 200 – 300 mm 150 – 250 mm 100 – 210 mm 55 – 100 mm
  • Panjang ekor 160 – 210 mm 160 – 210 mm 120 – 250 mm 70 – 110 mm
  • Panjang total 360 – 510 mm 310 – 460 mm 220 – 460 mm 125 – 210 mm
  • Lebar daun telinga 29 – 33 mm 18 – 24 mm 19 – 23 mm 9 – 12 mm
  • Panjang telapak kaki belakang 45 – 55 mm 40 – 47 mm 30 – 37 mm 12 – 18 mm
  • Lebar gigi pengerat 4 mm 3.5 mm 3 mm 1.5 mm
  • Rumus putting susu 3 + 3 pasang 3 + 3 pasang 2 + 3 pasang 3+ 2 pasang

Biologi

a. Indera

1) Pengelihatan

Indera pengelihatan tikus berkembang kurang sempurna dimana ia merupakan hewan yang buta warna. Menurut beberapa penelitian tikus lebih menyenangi akan warna kuning dan hijau cerah.Walaupun tikus menderita buta warna, akan tetapi tikus mempunyai kemampuan dalam mengenali benda dalam cahaya yang kurang. Untuk tikus, ia dapat mengidentifikasi benda dalam radius 10 m, sedangkan mencit sapai dengan jarak panda 15 m.

2) Penciuman

Indera penciuman tikus berkembang dengan sempurna, hal ini dapat dilihat dari kemampuan tikus dalam mengidentifikasi pakan yang akan dijadikan sebagai sumber makanan dengan cara mengerak-gerakan kepala dan mendengus-dengus.

Selain itu mengidentifikasi pakan, indera ini pun sangat berguna untuk mengetahui betina yang sedang mengalami estrus, tikus lain, wilayah (dengan cara mencium bekas urine), atau bau predator.

3) Pendengaran

Indera pendengaran tikus berkembang dengan sangat baik dimana indera pendengarn ini berkorelasi dengan kemampuan tikus untuk menghasilkan suara ultrasonic. Suara ultrasonic dihasilkan oleh tikus dalam rangka melakukankomunikasi sosial, seperti pada anak tikus memanggil induknya, saat sedang melakukan aktifitas sexual, atau ketika sedang berkelahi dengan koloni lain.

Selain bisa mendengar dalam frekuensi ultrasonic, tikus pun bisa mendengar dalam frekuensi yang bisa didengar oleh manusia. Dengan kata lain indera pendengaran tikus dapat mendeteksi dalam dua puncak yang akustik yang berbeda yaitu pada 40 Khz untuk tikus dab 20 Khz untuk mencit, serta pada level ultra sonic berada pada frekuensi 100 Khz untuk tikus dan 90 Khz untuk mencit.

Dengan adanya kemampuan ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan tikus, akan tetapi mengingat banyaknya faktor eksternal yang mempengaruhi efektivitas dari suatu metode pengendalian, dilapangan metode yang memanfaatkan gelombang ultrasonic kurang efektif.

4) Perasa

Tikus mampu membedakan antara rasa seperti halnya dengan manusia. Menurut beberapa [enelitian tikus dapat mendeteksi dan menolak minuman yang mengandung rasa pahit. Implikasi di lapangan adalah sebagai operator pest control kita harus hati-hati dalam menentukan umpan pembawa yang digunakan untuk menarik tikus agar tidak terjadi jera umpan yang pada akhirnya menjadi resisten.

5) Peraba

Indera peraba dalam tubuh tikus sangat berguna dalam pergerakan tikus ditengah kegelapan. Sebagai alat untuk meraba, tikus mempergunakan vibrissae dan misaim yang dimilikinya.

Vibrissae adalah rambut-rambut halus dan panjang yang tumbuh diantara rambut-rambut normal pada bagian tepi (lateral) dan bawah (ventral) tubuhnya. Sedangkan misai adalah rambut-rambut halus dan panjang diantara kumis tikus.

Biasanya ke 2 alat peraba tersebut digunakan dengan cara memberikan sentuhan pada dinding lantai, atau benda-benda lainnya. Hal ini dapat membantu dalam menentukan arah dan member tanda bahaya jika ada lubang atau rintangan didepannya. Perilaku ini disebut dengan “Thigmotaxis”

Dengan adanya perilaku thigmotaxis ini maka tikus akan melalui pada jalan yang sama dan berulang kali untuk menghindari bahaya, sehingga prilaku ini disebut perilaku “runway”

6) Kemampuan fisik

Tikus memiliki kemampuan fisik yang sangat berguna dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, seperti :

ü  Menggali

Tikus dapat menggali sampai pada kedalaman 50 – 200 cm, dimana biasanya system sarang tikus di tanah berbentuk lorong-lorong dan sangat sulit untuk mencapai pada sarang utamanya hal ini berfungsi untuk mengecoh predator seperti ular dan menambah kapasitas sarang jika populasi meningkat.

ü  Memanjat

Tikus dapat memanjat pada permukaan yang kasar seperti tembok, pvc, tali, dll. Hal ini ditunjang oleh morfologi tikus yang memiliki food pad (tonjolan yang keras dan kasar) pada bagian kakinya, cakar, serta ekor yang berfungsi sebagai alat keseimbangan

ü  Meloncat

Pada keadaan normal tikus dapat meloncat secara vertical samapi ketinggian 77 cm, sedangkans ecara horizontal loncat tikus mencapai 240 cm,. untuk mencit rumha, loncatanya secara vertical dapat mencapai 25 cm. loncatan ini dapat akan menjadi lebih tinggi atau jauh apabila terdapat ancang-ancang terlebih dahulu.

ü  Mengerat

Tikus dapat mengerat benda-benda yang sangat keras seperti tembok, steker, pintu, sepatu, kabel, aspal dll. Menurut beberapa peneliti tikus dapat mengerat benda-benda yang keras samapi nilai 5.5 pada skala kekerasa geologi.

ü  Berenang

Tikus dapat berenang selama 50 – 72 jam dengan suhu 350 C, dan dengan kecepatan berenang 1,4 km/jam untuk tikus dan 0.7 km/jam untuk mencit. Selain itu tikus pun dapat menyelam selama 30 detik.

Perilaku Tkus

a. Perilaku makan

Ketika mendapati makanan, tikus tidak akan langsung memakan keseluruhan makanan tersebut akan tetapi ia akan mencicipinya sedikit demi sedikit serta akan meraskan reaksi yang terjadi pada tubuhnya. Jika dirasa tidak ada reaksi maka tius akan memakannya dalam jumlah yang banyak sampai pakan tersebut habis. Fenomena ini terjadi karena tikus memiliki sifat neo-phobia yaitu mudah curiga terhadao segala sesuatu yang baru diterimanya

Implikasinya dilapangan adalah ketika kita melakukan pengumpanan dengan menggunakan racun akut maka sebaiknya dilakukan metode pre-baiting terlebih dahulu yaitu dengan cara memberikan umapn yang disukai tikus dan tidak mengandung racun, setelah beberapa hari tikus biasa memakan umpan yang kita berikan, selanjutnya kita menggabungkan umpan tersebut dengan racun akut.

Hal ini dipergunakan apabila racun yang digunakan adalah racun akut, sedangkan apabila racun yang dipergunakan adalah racun kronis maka metode pre-baiting tidak perlu dilaksanakan

Metode diatas perlu diketahui dan dilaksanakan agar tidak terjadi bait-shyness atau poison shyness (jera umpan dan jera racun)

b. Perilaku sosial

Tikus merupakan hewan yang berkelompok dimana pada setiap kelompok, tikus jantan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi didalam koloninya. Pada saat populasi meningkat terjadi kompetisi internal didalam koloni tersebut dan pada akhirnya tikus jantan yang kalah akan keluar dari koloni bersama dengan tikus betina lainnya untuk membuat koloni yang baru.

c. Reproduksi

Reproduksi tikus sangat bergantung pada beberapa faktor yaitu faktor ketersediaan sarang, makanan, cuaca, serta musuh alamiahnya. Dalam keadaan normal tikus mempunyai potensi untuk meningkatkan populasinya dengan cepat karena didukung oleh cepatnya siklus hidup mereka seperti :

– Matang sexsual antara 2 – 3 bulan

– Masa bunting 21 – 23 hari

– Masa menyusui selama 4 minggu

– Post partum oestrus yaitu msa timbulnya birahi kembali 24 – 28 jam setelah melahirkan

– Merupakan hewan poliestrus yaitu melairkan tanpa mengenal musum

– Melahirkan anak dalam jumlah yang besar yaitu 3 – 12 ekor dengan rata-rata 6 ekor per kelahiran

Dalam keadaan yang tidak normal (kurangnya kapasitas sarang, sedikitnya jumlah makanan, banyaknya musuh alami, dan cuaca yang tidak mendukung ) populasi tikus akan berkurang dengan snagat cepat.

Pengendalian

Tindakan pengendalian yang harus dilakukan meliputi dari monitoring, prevention, exclusion, sanitation, dan treatment. Komponen-komponen tersebut merupakan sebuah system yang terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

Penjelasan dari komponen-komponen pengendalian diatas adalah sebagai berikut :

a. Monitoring

Kegiatan monitoring meliputi pengematan terhadap suara, jejak kaki, jejak ekor, feses, urine, kerusakan, tikus hidup atau mati. Kegiatan ini bertujuan untuk mengidentikasikan masalah yang ada dilapangan dan dicari solusi optimumnya agar tindakan pengendalian menjadi lebih efektif dan efisien

b. Prevention

Prevention bertujuan untuk mencegah agar tikus yang berda dia area luar tidak dapat memasuki area dalam bangunan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan adalah dengan memasng seal bagian bawah atau samping pintu, dan celah-celah pada plafon yang dilewati oleh pipa atau kabel listrik.

c. Exclusion

Exclusion bertujuan untuk mencegah agar tikus yang berada di area dalam tidak dapat berkembangbiak. Tindakan-tindakan yang dapat dilakukan adalah dengan merapihkan tumpukan barang atau menjaga jarak antara dinding dengan barang.

d. Sanitation

Sanitation bertujuan untuk mencegah agar tikus tidak mendapatkan sumber makanan sehingga pada akhirnya apabila sumber makanan menjadi berkurang mak tikus akan menjadi kanibal dan saling memakan diantara koloninya

e. Treatment

Treatmen bertujuan agar populasi tikus dapat berkurang dengan cepat, beberapa metode treatment yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pengumpanan beracun dengan bahan aktif brodifacoum, coumatetralyl, dan bromadiolon. Trapping baik dengan lem atau perangkap hidup dan mati, Dust untuk populasi yang tinggi (tidak direkomendasikan di industry), Fumigant.